
Oleh Rhoma Dwi Aria Yuliantri
Jennifer Lindsay adalah salah satu periset dari luar negeri yang tertarik dengan sejarah Indonesia, khususnya sejarah kebudayaan Indonesia. Perempuan New Zealand ini fasih berbahasa Indonesia dan Jawa serta menguasai beberapa alat musik Jawa. Jennifer meraih gelar BA (Victoria University, Wellington), MA (Cornell, USA), dan PhD (University of Sydney). Dia bekerja sebagai administrator seni, program officer yayasan, dan akademisi. Dia mengajar di Departemen Studi Asia Tenggara, National University of Singapore. Jennifer menulis tentang kebijakan dan kinerja budaya di Asia Tenggara, dan juga tentang bahasa, media dan kinerja di Indonesia. Selain itu, Jennifer juga aktif menerjemahkan, antara lain menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris dua koleksi esai Goenawan Mohamad di mingguan Tempo. Selama 2008-9, dia memimpin proyek penelitian kolaboratif internasional tentang sejarah kebudayaan Indonesia 1950-1965 yang didukung oleh KITLV dan juga Penelitian Kolaborasi Australia serta lokakarya skema hibah.
Apa yang membuat tertarik dengan Indonesia dan Sejarah Indonesia?
Saya lama di Indonesia. Ini buka rahasia. Saya ambil sejarah sebagai salah satu mata kuliah untuk S1 . Ssebetulnya mayor saya Sastra Inggris. Ambil mata kuliah sejarah gagal. "Saya tidak lulus" di New Zealand.
Kenapa?
Mungkin terlalu muda. Saya langsung dari SMA masuk Universitas. Saya masih dengan cara belajar seperti di sekolah, jadi seolah-seolah sejarah itu hanya hapal fakta dan hafal data, jadi saya agak bingung ketika di universitas. Sejarah tidak seperti itu, jadi memang harus bisa membaca, berfikir dan menafsirkan sendiri. Saya masih terlalu muda jadi bingung…. Bingung ngapain? Seperti butuh pengarahan. Lalu baru belakangan saya tertarik dengan sejarah setelah tinggal di Yogya. Lama, yaitu 6 tahun.
Tinggal di Yogya pertama kali untuk keperluan studi atau apa?
Berkunjung, belajar gamelan, bahasa Jawa, macam-macam. Setelah itu dapat kesempatan melanjutkan studi S2 di Amerika. Mereka perlu orang untuk membantu mengajar gamelan di sana (Cornell, USA). Saya tidak harus bayar kuliah tetapi saya harus mengajar. Saya ambil kesempatan itu dan ambil jurusan Sejarah walaupun S1-nya tidak lulus.Tetapi saya ambil Sejarah Asia Tenggara sebab saya sudah tertarik dengan sejarah. Mulai tertarik dengan sejarah malah di sini (Indonesia).
Kenapa, Mbak?
Awalnya, kalau ingin kenal suatu tempat baru, pintu masuknya adalah sejarah. Juga di sini. Kalau ke mana-mana ada. Kisah-kisah sejarah itu kelihatan ada candi, kraton (yang fisiknya), ada pula yang nonfisik. Ya.... Kalau ingin dan mau kenal budaya yang lain kita harus kenal sejarah. Saya memang sangat tertarik dengan sejarah. Masuknya di Sejarah Asia Tenggara di Cornell University menggambil SouthEast Asian History, ambil yang khusus sejarah kontemporer dan sejarah lama. Untuk S2, saya menulis mengenai pendirian ”Pakualaman”. Waktu itu, risetnya saya baca babad dan sebagainya. Sebetulnya tesis S2 saya jelek sekali. Saya malu (sambil tertawa). Ya itu awal-awalnya saya tertarik dengan sejarah. Setelah itu untuk S3 meneruskan sejarah lebih spesifik lagi sebab saya selalu mengaitkan sejarah dengan kebudayaan. Jadi saya menulis S3 saya selama di sini pada tahun 1980-an dan saya membandingkan periode itu dengan cara orang memandang kebudayaannya sendiri sebagai sesuatu yang klasik, jadi tidak berubah ketika membandingkan dengan kenyataan. Jadi melihat perubahan-perubahan pada awal abad 20, memang dahsyat, seperti pada musik dan karawitan. Jadi kalau melihat budaya nggak bisa melihatnya dengan ”vakum”, jadi selalu berubah, selalu ada konteks sejarah.
Apa yang menarik dari sejarah budaya Indonesia?
Itu tidak ada habis-habisnya. Saya kira bagi yang senang sejarah, lapangan ini adalah lapangan yang subur sekali nggak ada habis-habisnya. Belakangan ini saya tertarik pada periode awal-awalnya republik ini, jadi periode 50-an, dan itu sesuatu yang baru bagi saya. Bagi saya periode itu menarik sekali karena ada orangnya, jadi masih bisa menyentuh periode itu, masih bisa bertemu dengan orang (saksi) walaupun tinggal sedikit. Dan periode itu sangat penting untuk mengerti Republik ini karena itulah awalnya Republik ini dibangun. Saya kayak menemukan, walaupun sudah lama di Indonesia, ”kayak menemukan negara yang baru lagi”.
Arti penting sejarah budaya bagi Mbak Jennifer sendiri?
Saya mungkin orang yang kolot. Kalau orang tidak menggerti sejarah tidak akan mengerti masa kini. Kalau lebih mengerti sejarah, membantu untuk tidak menggulangi apa yang terjadi dalam sejarah, walaupun tidak bisa dijamin tapi penting sekali kalau mau mengerti konteks sekarang ini harus mengerti zaman dulu (sejarah).
Sudah berapa kali melakukan riset?
Saya nggak hitung, bukan saking banyaknya tapi saya suka ganti-ganti topik. Saya suka ganti topik seperti menulis mengenai Radio, menggenai kebijakan kebudayaan dan macam-macam. Yang paling sejarah murni adalah proyek sekarang ini, tentang tahun 1950-an.
Dari mana muncul ide untuk meriset secara bersama-sama tentang budaya 1950-an?
Lupa persisnya idenya dari mana. Maya Liem minta saya menulis satu makalah menggenai Perang Dingin dan saya menulis Festival di Singapura konteks Perang Dingin. Sebelumnya saya mempunyai gagasan untuk menulis pertunjukan dan politik Indonesia dengan mengaitkan beberapa tulisan dari zaman dulu dan gagasan dalam kepala saya berkembang terus. Untuk itu harus ada satu bab mengenai tahun 50-an. Itu berkembang dan berkembang dan melibatkan banyak orang. Bahwa kami sadar kita harus bergerilya, terlalu sulit dan terlalu sedikit bahan untuk dipelajari bahkan untuk mencari data pun sulit untuk dilakukan satu orang. Jadi yang bisa dilakukan adalah dengan kerjasama. Lalu timbul ide ini untuk mencari teman-teman supaya bisa mengisi. Saya menggambil misi kesenian karena lama tertarik pada topik itu, yaitu penari-penari dan penabuh yang dikirim oleh Sukarno ke luar negeri untuk mewakili negara.
Jadi Mbak bisa main gamelan?
Dulu bisa, sekarang tidak bisa. Dulu sering main Gender dan Bonang. Sekarang sudah lupa. Tapi saya sebagai penggemar yang baik, saya masih senang sekali.***
|