Cerita dari Kampungku: Catatan Kecil Sejarah Indonesia
Oleh: Desy prillian Gita ( SMA N 5 Yogyakarta)
Delapan tahun yang lalu tatkala saya masih kecil, di desa saya banyak terdapat mainan tradisional yang sering di lakukan oleh anak-anak contohnya, permainan dakon, gobak sodor dan engklek. Tapi sayangnya permaianan seperi itu sudah jarang dipermainakan anak-anak di desa saya karena anak-anak sekarang lebih suka bermain permainan zaman sekarang.
Dulu permainan dakon paling digemari di desa saya karena permainannya seru, mudah serta sederhana. Permainan dakon meurut kakung saya sangat terkenal sebagai permainan tradisonal Jawa, permainan ini katanya juga sangat identik dengan dunia wanita karena berhubungan erat dengan pengelolaan keuangan atau masalah manajemen. Selain itu permainan dakon juga bukan permainan yang memerlukan otot sehingga dianggap permainan yang terlalu lembut. Tetapi dalam permaian ini juga dibutuhkan kecerdasan yang tepat agar agar tidak salah saat mengambil kecik.
Kecik adalah biji sawo yang biasa digunakan saat permainan dakon. Biji sawo digunakan dalam permainan ini karena zaman dulu banyak sekali pohon sawo dipekarangan rumah sehingga dimanfaatkan untuk permainan dakon. Kecik yang dibutuhkan dalam permainan dakok ada 98 buah. Masing-masing sisi dakon yang memiliki 7 buah lubang itu diisi 7 buah biji untuk masing-masing lubangnya. Jadi, masing-masing pemain memiliki 49 buah biji kecik yang siap dijalankan. Sedangkan lubang dibagian ujung (pojok) dakon dikosongkan untuk menampung sisa biji ketika permainan dijalankan. Lubang pada papan dakon berjumlah 16 buah. Masing-masing sisi papan dakon terdapat 7 buah lubang dan 2 buah lubang di masing-masing pojokan/ujung papannya. Tapi sayangnyapermainan dakon sekarang jarang dipermainkan anak-anak saat ini karena banyak permainan modern yang lebih digemari.
Selain permainan dakon ada lagi permainan jawa tradisional lain yang dulunya sering digemari anak-anak di desaku yaitu gobak sodor. Permainan gobak sodor sangat berbeda dengan permainan dakon yang sangat lembut permainannya. Gobak sodor memerlukan tenaga dan ketangkasan. Di desaku permainan ini sering dilakukan sat purnama, apalagi saat anginya semilir. Cerita dari kakungku, permaianan ini disebut dnegan gobak sodor karena permainan ini maju mundur melalui pintu-pintu. Dalam bahasa Belanda istilah gobak sodor artinya mungkin sama dengan kata ”Go Back Though the Door” dalam bahasa Inggris.
Selain itu masih ada lagi permainan yang lain, namanya permainan engklek. Permainan in paling sering dimainkan oleh anak perempuan di desa saya. Permainan engklek bisanya dimainakan 2 samapai 5 orang. Cara bermainanya sederhana saja, cukup melompat menggunakan satu kaki disetiap petak-petak yan telah digambarkan sebelumnya di tanah. Untuk dapat bermain setiap anak harus berbekal kereweng atau gacuk yang bisanya berupa pecahan genting. Kreweng ditempatkan disalah satu petak yang tergambar di tanah dengan cara dilempar, petak yang ada gacuknya tidak boleh diinjak/ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya. Pemain yang menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu berhak memilih sebuah petak untuk dijadikan “sawah” yang artinya dipetak tersebut pemain yang bersangkutan dapat menginjak petak tersebut dengan dua kaki, sementara pemain lain tidak boleh menginjak petak itu selama permainan. Pemainan ini sangat seru karena bisanya paling sering kesalahan yang dilakukan adalah saat kita melempar gacuk tapi tidak pas dikotaknya atau meleset dari tempatnya.
Sebenarnya masih banyak permainan Jawa tradisional yang sering saya mainkan bersama-sama teman di desa. Tapi sekrang sudah jarang banget permainan ini dimainkan. Bahkan bisa dibilah sudah hampir punah. Padahal permainan tradisional zaman dahulu lebih mendidik, contohnya dakon dalam bidang keungan, gobak sodor yang memerlukan kecerdasan dan kerjasama antar tim agar bisa memperoleh kemenangan, dan engklek yang harus bisa tepat pada tempatnya.
Mungkin saat ini hanya sedikit dari kita yang masih tahu jenis-jenis permainan tradisional seperti gatrik, lompat tali, petak umpet, benteng, gobak sodor, dakon, gasing, dan lainnya. Bahkan bisa jadi permainan ini tidak dikenal anak-anak sekarangyang tinggal di kota-kota besar. Akan sangat menyenangkan dan beranfaat jika ada sanggar khusus untuk permainan tradisional. Terlebih di Yogya atau di Solo yang notabene adalah kota buadaya yang memiliki nilai sejarah tinggi, Jadi jangan sampai punah permainan tradisional ini.
Sumber foto: http://yohanasagita.files.wordpress.com/2009/04/bk13.jpg |